SEBAGAI PENGAYAAN MATERI AJAR SASTRA SD KELAS TINGGI
Dr. Juanda, M.Hum.
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa
dan Sastra
Universitas Negeri Makassar
HP
085255007915
ABSTRAK
Sastra anak yang berasal dari
Sulawesi Selatan, antara lain: Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan
Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan I Laurang. Sastra anak ini
sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang perlu digali dan dipertahankan dalam
pembentukan karakter bangsa Indonesia.
Pembentukan karakter pada anak sejak dini dapat menjadikan pondasi pembangunan sumber daya
manusia sebagai penguatan budaya lokal dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sastra anak yang memiliki nilai
pembentukan karakter dapat dijadikan bahan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi. Tujuan penelitian
ini adalah mengeksplorasi nilai-nilai karakter yang terdapat dalam sastra
anak yang berasal dari Sulawesi Selatan
dan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kualitatif. Sumber datanya
adalah sastra anak yang berasal dari Sulawesi Selatan. Teknik pengumpulan data
menggunakan teknik membaca kritis,
yaitu: membaca sastra anak Sulawesi Selatan, mencatat data-data yang
berkaitan dengan nilai karakter lalu
mengklasifikasikan datanya. Teknik analisis data dengan teknik analisis
isi dengan langkah-langkah: mereduksi data, menyajikan dengan menyusun secara
teratur dan terperinci, menganalisis data yang tersaji sehingga memperoleh
deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter lalu melakukan penarikan
kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai
pendidikan karakter yang terdapat pada sastra anak dari Sulawesi Selatan, yaitu: bertanggung jawab, mementingkan kepentingan orang lain,
tegas, peduli, berbelas kasih, bekerja sama, berani, dipercaya, tekun, adil, pemaaf,
murah hati, ramah, ulet, penolong, punya
rasa ingin tahu, pemimpin, disiplin, percaya diri, rasa kemanusiaan, toleransi,
dan bijaksana. Sastra anak berjudul Anak-Anak
dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau,
dan I
Laurang dapat dijadikan bahan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi.
Kata Kunci: Karakter, Sastra Anak, dan Materi Ajar
PENDAHULUAN
Sastra anak yang
berasal dari Sulawesi Selatan, antara
lain: Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo
Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan I Laurang. Sastra anak ini
sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang perlu digali dan dipertahankan
dalam pembentukan karakter bangsa
Indonesia. Pembentukan karakter pada anak sejak dini dapat menjadikan pondasi pembangunan sumber daya
manusia sebagai penguatan budaya lokal dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sastra anak yang memiliki nilai
pembentukan karakter dapat dijadikan
bahan pengayaan materi ajar
sastra di SD kelas tinggi.
Pembelajaran
sastra pada jenjang SD kelas tinggi perlu memperkenalkan sebanyak mungkin
variasi dan jenis karya sastra, misalnya genre sastra yang terdiri atas prosa,
puisi, drama, dan film. Karya sastra tersebut wajib dibaca dan dipelajari oleh
murid. Mereka dapat membaca dan menikmatinya. Murid yang semula kurang suka
membaca dan siswa kita harapkan berubah menjadi suka sehingga kebiasaan ini
ditampung dengan kebiasaan yang menjadikan kompeten membaca. Para ahli
psikologi menyatakan bahwa anak usia SD sudah memiliki kemampuan kognitif yang
menjadikannya dapat bernalar (yang semula selalu bernalar dengan induktif),
bisa mengingat, mampu menggunakan kalimat yang semakin kompleks dan semakin sosial.
Bilamana kompetensi dasar sastra, membaca
sebagai kesenangan, sesuatu yang menjadi tujuan pengajaran sastra. Hal
yang pengajar harapkan adalah murid menjadi suka membaca sehingga dapat mandiri
melahap berbagai jenis bacaan lainnya yang memberikannya pelajaran sehingga
menjadi alat bagi mereka untuk hidup mandiri
Kajian budaya lokal dan
pelestariannya khususnya sastra
sebenarnya telah tertuang dalam Peraturan Bersama Menteri dalam Negeri Dan Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata Nomor : 42 Tahun 2009 Nomor :
40 Tahun 2009 tentang Pedoman
Pelestarian Kebudayaan. Bab I ketentuan umum pasal 1 ayat (1) Kebudayaan adalah
keseluruhan gagasan, perilaku, dan hasil karya manusia dan/atau kelompok
manusia baik bersifat fisik maupun non fisik yang diperoleh melalui proses
belajar dan adaptasi terhadap lingkungannya. (2) Pelestarian adalah upaya
perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan yang dinamis. (3)
Perlindungan adalah upaya pencegahan dan penanggulangan yang dapat menimbulkan
kerusakan, kerugian, atau kepunahan kebudayaan berupa gagasan, perilaku, dan
karya budaya termasuk harkat dan martabat serta hak budaya yang diakibatkan
oleh perbuatan manusia ataupun proses alam. (4) Pengembangan adalah upaya dalam
berkarya, yang memungkinkan terjadinya penyempurnaan gagasan, perilaku, dan
karya budaya berupa perubahan, penambahan, atau penggantian sesuai tata dan
norma yang berlaku pada komunitas pemiliknya tanpa mengorbankan keasliannya. (5) Pemanfaatan adalah upaya penggunaan karya
budaya untuk kepentingan pendidikan, agama, sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan,
teknologi, dan kebudayaan itu sendiri. (1) Perlindungan, pengembangan, dan
pemanfaatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) meliputi aspek-aspek:
a. kesenian; b. kepurbakalaan; c. kesejarahan; d. permuseuman; e. kebahasaan;
f. kesusastraan; g. tradisi; h. kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; i.
kepustakaan; j. kenaskahan; dan k. perfilman. Pasal 12 Pemanfaatan
kebudayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dapat dilakukan melalui:
a. penyebarluasan informasi; b. pergelaran budaya; c. pengemasan bahan ajar; d. pengemasan bahan kajian; dan e.
pengembangan wisata.
Perpres No. 14 Tahun
2015 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden
dan dipimpin oleh Menteri. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai
tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan anak usia dini,
pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan masyarakat, serta
pengelolaan kebudayaan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan
pemerintahan negara. Dalam melaksanakan
tugas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan fungsi: Pelaksanaan
bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan di daerah; h. Pelaksanaan pengembangan, pembinaan, dan
perlindungan bahasa dan sastra;
Pada Bab III Pasal 4 ayat (5) dalam Peraturan Daerah
nomor 19 Tahun 2001 tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat
Istiadat dan Lembaga Adat; disebutkan bahwa tujuan pembinaan adalah untuk
meningkatkan sikap positif terhadap adat istiadat dan lembaga adat dapat mencapai taraf hidup yang lebih baik.
Kemudian untuk mempertahankan adat
istiadat, mereka menyelenggarkaan berbagai upacara adat dalam siklus kehidupan
manusia, seperti pada saat kehamilan, kelahiran, turun tanah, dikhitan, menikah
dan meninggal dunia. Selain upacara adat, masyarakat hukum adat juga masih
memelihara seni budaya lokal yang merupakan warisan leluhur mereka. Seni budaya
dalam bentuk tarian, musik dan tarian tradisional biasanya ditampilkan
bertepatan dengan hari-hari tertentu untuk melengkapi upacara adat. Di kalangan
suku Bugis ada seni sastra yang tertulis dalam lontara yang menggunakan aksara
Bugis/Makasar.
Masalah penelitian ini
adalah nilai-niali karakter apakah yang terdapat dalam sastra anak Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan
Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan
I Laurang dan apakah layak
dijadikan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi. Tujuan penelitian
ini adalah mengeksplorasi nilai-nilai karakter yang terdapat dalam sastra
anak yang berasal dari Sulawesi Selatan
dan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi.
TEORI
Seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sastra telah mengalami
perkembangan pesat antara lain dalam genre sastra sendiri. Dahulu sastra
mengenal hanya tiga genre yaitu; prosa, puisi, dan drama ( Klarer, 2004). Sekarang genre sastra menjadi empat yaitu: prosa, puisi, drama, dan film (Klarer,
2004) Pada bagian prosa dikenal sastra
anak yang di dalamnya antara lain dongeng. Dongeng merupakan rangkaian
peristiwa yang nyata atau tidak nyata yang disampaikan secara sederhana dan
mengandung pesan moral yang baik. Kisah nyata itu bisa berupa sejarah, biografi atau testimoni,
serta kisah rekaan seperti fabel, mitos,
legenda, atau hikayat. Mendongeng atau bercerita tentang sesuatu bisa dilakukan dengan banyak cara agar
dongeng lebih menarik dan hidup misalnya dengan animasi suara melalui aplikasi
teknologi informatika atau melalui alat peraga tradisional. Mendongeng bisa
dilakukan oleh anka-anak, orang tua, guru, atau siapapun yang memilki bakat,
seni, hobi, kemauan dan kemampuan serta
kepentingan untuk itu.
Dalam
sastra anak proses dialog interaktif antara
cerita anak dengan pembacanya biasanya hilang. Apabila kita cermati proses kreatif dan proses produksi sastra anak sangat dikontrol oleh orang dewasa meskipun sastra anak ditulis untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Sastra anak
adalah karya sastra yang sengaja ditulis
untuk mendidik anak. Apabila Horace
dalam, Arts Poetica menulis dulce et utile ‘menghibur dan mendidik’ yang
oleh Citraningtyas, Rudy Pramono, dan Helena Tangkilisan (2013) dikatakan
mendidik dan menghibur.
Ditinjau
dari sasaran pembacanya satra anak dapat dibedakan antara sastra anak untuk
sasaran pembaca kelas awal, menengah, dan kelas tinggi. Sastra anak secara umum
meliputi; 1) buku bergambar, 2) cerita rakyat, 3) fiksi sejarah, 4)fiksi
realistik, 5)fiksi ilmiah, 6)cerita fantasi, 7)biografi. Selain berupa cerita,
sastra anak juga berupa puisi yang lebih
banyak menggambarkan keindahan, paduan bunyi kebahasaan, pilihan kata dan ungkapan
perasaan, gagasan, penggambaran objek maupun peristiwa yang sesuai dengan
tingkat perkembangan anak (Saryono dalam Puryanto, 2008: 3).
Saxby
(1991:5-10) mengemukakan bahwa kontribusi satsra anak membentang dari dukungan terhadap berbagai
pertumbuhan pengalaman (rasa, emosi, bahasa, ) personal (kognitif, etis, sosial,
spiritual), eksplorasi dan penemuan. Namun, termasuk juga petualangan dalam
kenikmatan. Sementara itu (Huck, dkk., 1987: 6-14) mengemukakan bahwa nilai
sastra anak secara garis besar dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu nilai
personal (personal values) dan nilai
pendidikan (educational values).
Secara rinci Nurgiyantoro (2004: 214-227) mengemukakan kontribusi sastra anak
terhadap perkembangan anak, yaitu terhadap perkembangan emosional, perkembangan
intelektual, perkembangan imajinasi, pertumbuhan rasa sosial, pertumbuhan rasa
etis dan religius, dan pada nilai pendidikan sebagai eksplorasi dan multikultural dan penanaman kebiasaan membaca.
Karakter
Karakter yang
menjadi acuan seperti yang terdapat
dalam The Six Pillars Of Character
yang dikeluarkan oleh character Counts of Coalition a Project
of the Joseph Institute of Ethics, yaitu: 1) trustworthiness, bentuk
karakter yang membuat seseorang menjadi berintegrasi, jujur, dan loyal; 2) fairness, bentuk karakter yang membuat
seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka memanfaatkan orang lain;
3) caring bentuk karakter yang
membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain
maupun kondisi sosial lingkungan sekitar; 4) respect yaitu bentuk karakter yang membuat seseorang selalu
menghargai dan menghormati orang lain; 5) citizenship,
bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap
lingkungan alam; 6) responsibility,
bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin serta
melakukan sesuatu yang sebaik mungkin
(Chrisiana, 2005:84). Kekuatan karakter adalah proses atau mekanisme psikologis
yang didefinisikan sebagai aspek yang merujuk kepada kepribadian dan nilai
moral (Shoshani dan Ilanit Aviv, 2014:
317).
Pendidikan
karakter dalam setting sekolah sebagai pembelajaran yang mengarah pada
penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu
nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Definisi ini mengandung makna; 1)
pendidikan karakter merupakan pendidikan yang terintegrasi pada mata pelajaran
yang terjadi pada semua mata pelajaran; 2) diarahkan pada penguatan dan pengembangan
perilaku anak secara utuh; 3) penguatan
dan pengembangan perilaku didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah (lembaga).
Tujuan pendidikan karakter merujuk pada sasaran untuk meluruskan berbagai
perilaku anak yang negatif menjadi positif. Proses pendidikan karakter di
sekolah harus dihubungkan dengan proses pendidikan di kalangan keluarga
(Kesuma, Cepi Triatne dan Johar Permana, 2011: 11). Pengembangan dan pengajaran karakter yang
baik pada anak-anak sangat ditentukan oleh peran orang tua, guru, dan lingkungan
sosial (Helterbran dan Brianna R.
Strahler, 2014: 311).
Karakter dapat
diberikan beberapa pengertian, antara lain “Character
determines someone’s private thougts and someone action’s done. Good character is the inward motivation to do whot is right, according to
the highest standard of behavior, in every situation” (Hill, 2005). Banyak
Pengertian karakter dalam dunia pendidikan, yaitu: kejujuran, kebaikan hati, dermawan,
toleransi, kebebasan, persamaan, dan respek terhadap perbedaan ( Lintner, 2014:
200). Jenis karakter didefinisikan
sebagai gambaran tanda yang berfungsi mewakili metonimik logis. Keller (1993)
dalam (Nicolas dan Mathilde Gollety,
2012:21) mengemukakan bahwa jenis pengetahuan dibagi dalam dua dimensi, yaitu kesadaran
dan image.
Pendidikan karakter
menjadikan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk
hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga,
masyarakat, dan bernegara dan membantu
mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan
karakter sangat penting dalam memahami bagaimana memaafkan (Wei, Robert Enright,
dan John Klatt, 2014: 238). Penguatan karakter perlu ditanamkan melalui
pendidikan dan budaya lokal (Ferdiawan dan Wira Eka Putra, 2013: 1097).
Strategi
pendidikan karakter di sekolah meliputi empat tahapan, yaitu: sosialisasi,
internalisasi, pembiasaan, dan pembudayaan. Di dalam setiap tahapan karakter
terus-menerus digali hingga menjadi kebiasaan hidup keseharian siswa. Pada tahap sosialisasi anak dibangunkan kesadarannya mengenai
karakter sebagai fokus pembelajaran setiap bulan. Anak diperkenalkan dengan
tokoh-tokoh yang terkenal yang mempunyai
karakter yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi anak-anak. Sosialisasi dapat
dilakukan dengan berbagai cara melalui mendongeng, bermain drama,
berdiskusi, menonton video tokoh dan
lain sebagainya. Setelah itu, anak menginternalisasi karakter tersebut dalam
dirinya. Pada tahap pembiasaan anak dihadapkan pada masalah-masalah di sekolah
baik dalam kelas maupun lingkungan sekolah untuk dapat membiasakan diri
melakukan karakter yang sedang dipelajarinya (Fitri, 2012).
Pengajaran
Sastra
Pengajaran
sastra diyakini dapat membantu proses
pembentukan karakter siswa karena di dalam karya sastra terkandung nilai-nilai positif, nilai budaya,
sosial, moral, kemanusiaan hingga agama. Karena potensi nilai itu kaum romantik meyakini bahwa karya sastra mengandung
kebenaran yang setara dengan kitab suci. Setidaknya
filosof Aristoteles menyejajarakan
sastra khususnya puisi dengan filsafat,
konsep tentang kebijaksanaan hidup. Bahkan dia menganggap sastra lebih filosofis dibanding sejarah yang hanya mencatat kejadian atau
peristiwa penting yang kasat mata dan berpusat pada kekuasaan sedangkan sastra
dapat mengungkap hal-hal yang tersembunyi di balik peristiwa, termasuk
tersembunyi di dalam batin manusia, para pelaku sejarah, sekaligus meramal apa
yang bakal terjadi pada masa depan.
Pengajaran
sastra di sekolah menjadi tumpuan yang utama dalam pembentukan karakter. Belajar sastra adalah salah satu keterampilan
imajinatif dan komunikatif bagi siswa sebagai pencipta maupun penikmat sastra. Pengembangan
kompetensi kesusastraan terdiri atas dimensi kognitif dan konstitusional,
dimensi performansi dan dimensi estetis
dan sosiokultural. Dimensi ini
sangat berperan terhadap pengalaman dan emosi siswa dalam mengelaborasi
pemahaman dan makna (Torres dan Amanda Rose Bird, 2015: 11). Di dalam karya sastra terdapat muatan mendidik
maupun doktrin. Siswa juga bisa mencerna sesuai dengan perkembangan
jiwanya dan dapat peka terhadap karya sastra itu sendiri. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sastra sangat
relevan dengan pendidikan karakter. Karya
sastra sarat dengan nilai-nilai pendidikan akhlak seperti yang dikehendaki
dalam pendidikan karakter.
Membaca
karya sastra bukan hanya untuk mendapatkan kepuasan karena keindahannya melainkan juga untuk
memperkaya wawasan dan daya nalar. Sastra adalah vitamin batin karena mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan kepada pembacanya dan memberikan pencerahan.
Mengingat peranan sastra dalam
pengembangan kepribadian pembacanya maka pengajaran sastra di sekolah sangatlah
penting. Kesuksesan siswa ditentukan oleh peran orang tua, pendidik, dan
penentu kebijakan (Bengtson, 2015: 102).
Melalui
pengajaran sastra di sekolah, siswa
tidak hanya diperkenalkan kekayaan sastra Indonesia dan dunia , tokoh-tokoh
dalam kesusastraan bahkan juga diperkenalkan pada kekayaan isi karya sastra itu
sendiri. Dengan membaca dan memahami karya sastra berarti siswa mencoba memahami kehidupn, mencoba memperoleh nilai-nilai positif dan
luhur dari kehidupan dan pada akhirnya memperkaya batinnya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif
kualitatif. Sumber datanya adalah sastra anak yang berasal dari Sulawesi
Selatan. Ada enam langkah yang dilakukan
dalam penelitian ini (Gall dan Borg, 1983: 571), yaitu: Borg dan Gall (1983: 775) mengajukan
serangkaian tahap yang harus ditempuh dalam pendekatan ini, yaitu: “Research
and information collecting, planning, develop preliminary form of product,
preliminary field testing, main product revision, main field testing,
operational product revision, operational field testing, final product
revision, and dissemination and implementation.” Teknik
pengumpulan data menggunakan teknik membaca kritis, yaitu: membaca sastra anak Sulawesi Selatan,
mencatat data-data yang berkaitan dengan nilai karakter lalu mengklasifikasikan datanya. Teknik analisis
data dengan teknik analisis isi dengan langkah-langkah: mereduksi data,
menyajikan dengan menyusun secara teratur dan terperinci, menganalisis data
yang tersaji sehingga memperoleh deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter lalu
melakukan penarikan kesimpulan/verifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Nilai-nilai karakter
yang terdapat dalam sastra anak yang
berasal dari Sulawesi Selatan dan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas
tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang
terdapat pada sastra anak dari Sulawesi Selatan, yaitu:
Bertanggung
Jawab
Dalam dongeng Anak-Anak dengan Dada Emas memperlihatkan betapa raja
memiliki tanggung jawab yang besar terhadap kerajaan yang dipinpinnya dan tanggung
jawab terhadap istrinya meskipun istrinya tersebut sebagai selir. Contoh
kutipan di bawah ini.
Tidak lama kemudian gadis miskin
yang telah dikawini raja itu akhirnya hamil dan dia mengidam daging rusa.
Sekalipun gadis miskin yang dinikahi, tetapi sang Raja begitu kasih sayang,
sehingga apa yang diminta selalu dituruti. Bahkan untuk mencari daging rusa
sang Raja terjun sendiri berburu ke hutan. Melihat sayangnya yang luar biasa
kepada istrinya kedua (Anak-Anak dengan Dada Emas ).
Mementingkan
Kepentingan Orang Lain
Mengutamakan
kepentingan orang lain. Dalam hal ini Nenek Inang selalu mengutamakan kepentingan
orang lain terutama kepada si Dada Emas, bersaudara dapat dilihat pada cuplikan dongeng di bawah ini.
“Nenek Inang Pengasuh berkata, “Hai
cucuku, kesanalah kamu ikut menyambung ayam?” “Ayam apa yang harus saya bawa,
sementara tidak punya ayam,” tanya sang cucu. Nenek berkata lagi, ” Nanti kau
saya buatkan ayam agar ikut menyabung ayam”. (Anak-Anak si Dada Emas).
Tegas
Raja sangat tegas dalam mengambil keputusan. Sesaat setelah
raja mengetahui bahwa permaisurinya yang telah membuat kesalahan, membohongi
raja dan membuang anak kandung raja. Raja menghukum perrmaisurinya. Contoh
kutipan di bawah ini.
“Ternyata yang bohong adalah
permaisuriku, untuk itu dia segera memerintah kepada pengawalnya untuk
menangkapnya lalu diikat dan ditaruh dibawah jamban, sebagai ganti selirku.
Biar dia merasakan akibat perlakuan jahat itu” (Anak-Anak si Dada Emas).
Peduli
Para penduduk desa sangat peduli terhadap kemanan dan
ketenteraman dalam kampung mereka. Hal ini terbukti pada saat kampungnya selalu
kehilangan hewan peliharaan, mereka berusaha mencari pelakunya. Contoh kutipan
di bawah ini.
“Ambo Upe’ pun menjelaskan bahwa ia telah
memperoleh keterangan dari isyarat yang disampaikan oleh burung Elang miliknya,
di mana tempat persembunyian para perampok itu. Mengetahui hal itu, puluhan
penduduk desa yang mengikuti Bapak Ambo Upe’ menjadi gembira, dan menunggu
komando dari kepala desa, yaitu Bapak Ambo Upe’. Senjata-senjata berupa badik,
parang dan tombak pun mulai dipersiapkan. Obor pun mulai dinyalakan, karena
hari telah mulai gelap (Ambo Upe).
Belas Kasih
Belas kasih
dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini.
“Di
depan rombongan penduduk, berjalanlah Ambo Upe’ beserta burung Elangnya. Sambil
mengelus bulu burung Elang-nya dengan lembut dan penuh kasih sayang, Ambo Upe’
pun berkata, “Duhai burung Elang, jasamu sangat besar bagi penduduk desa. Dan
kamu juga sudah menyelamatkan diriku dari bahaya yang mengancam. Terimakasih
banyak kuucapkan, sungguh tak akan pernah kulupakan semua kebaikanmu, sekali
lagi terimakasih” (Ambo Upe)
Bekerja
Sama
Karakter
kerja sama dapat dilihat dalam dongeng yang menceritakan kerja sama penduduk
desa
yang
selalu kehilangan ternaknya mencari para pencurinya. Contoh kutipan di bawah
ini.
“Akhirnya
Ambo Asse’ mencoba memahaminya dan bersama-sama penduduk desa, ` mereka mengikuti kemana burung Elang itu
akan terbang. Rupanya burung itu terbang ke arah di mana Ambo Upe’ di
ikat oleh perampok tadi” (Ambo Upe).
Penolong,
dipercaya
Ambo
Upe dikenal sebagai anak yang rajin dan suka menolong siapa saja, serta
penyayang binatang, itulah sebabnya ia dipercaya untuk menggembalakan
kerbau-kerbau itu oleh bapaknya.( Anak-Anak
dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau)
Pemimpin
Ambo
Asse, seorang kepala desa memperlihatkan kepemimpinannya dalam menumpas
gerombolan perampok hewan ternak. Contoh kutipan di bawah ini.
“Dengan di
pimpin oleh Ambo Asse’ maka berangkatlah para penduduk dengan memanfaatkan nyala
obor serta mengikuti arah kemana burung Elang dan Ambo Upe’ pergi. Setelah
berjalan jauh ke dalam hutan, akhirnya mereka menemukan tempat persembunyian
para perampok itu. Para penduduk lalu mengepung tempat itu, dan tak lama
kemudian ke empat perampok itu pun karena kalah jumlah dan kalah senjata,
akhirnya menyerah tanpa melakukan perlawanan berarti” ( Ambo Upe ).
Pemberani,
toleransi, arif, bijaksana
Karakter jenis
ini dapat dilihat dalam dongeng I Laurang. Contoh kutipan di bawah ini.
“Akhirnya, kedua orangtuanya
mengabulkan kenginan anaknya. Mereka memberanikan diri menghadap sang raja yang
terkenal arif dan bijaksana. " Ampun baginda raja, jika kami yang miskin
ini sudah lancang masuk istana yang megah ini. Maksud kedatangan kami adalah ingin
menyampaikan pinangan anak kami kepada salah satu sorang putri baginda,"
jelas ayah I Laurang sambil memberi hormat “ (I
LAurang).
Pemaaf
Sifat karakter seperti ini dapat dilihat dalam dongeng I
Laurang. Contoh kutipan di bawah ini.
“Mendengar kelakuan keenam putrinya
itu, sang raja memilih Putri Bungsu untuk menjadi raja dan menjadikan keenam
kakaknya pelayan raja. Akhirnya, keenam kakaknya pun menyadari kesalahan
mereka. Mereka meminta maaf kepada Putri Bungsu. Putri Bungsu menerima maaf
mereka. Mereka pun hidup bahagia di istana” (I Laurang).
Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu dapat dilihat dalam dongeng Ambo Upe. Burung
Elang selalu mengikuti ke
mana kerbau tuannya digiring oleh kawanan perampok. Contoh
kutipan di bawah ini.
“Sang
burung Elang hanya bisa mengawasi semua yang terjadi dari atas pohon. Secara
diam-diam burung itu terbang mengikuti ke arah mana para perampok membawa
kerbau-kerbau milik Ambo Upe’. Ternyata hewan ternak itu dimasukkan ke dalam
sebuah gua yang terdapat di tengah hutan. Setelah itu burung Elang terbang
kembali ke arah rumah Ambo Upe” (Ambo Upe).
Adil
Karakter adil
diperlihatkan oleh sikap raja yang memperlakukan anaknya secara adil. Contoh
kutipan di bawah
ini.
“Raja kemudian bertanya kepada putrinya satu per satu dari
sulung hingga paling bungsu. Tetapi tidak ada yang tertarik pada I Laurang,
dari putri 1 hingga putri ke 6. Tapi Putri paling bungsu bersedia untuk menikah
dengan I Laurang dan raja merestuinya” (I Laurang).
Ramah dan disiplin
Ramah dan disiplin dapat di lihat dalam kutipan dongeng I
Laurang, contoh kutipan di bawah
ini.
“I Laurang adalah pemuda yang sangat
tampan dan gagah, rambutnya sangat panjang karena tidak potong dan kulitnya pun
sangat putih bersih. Hari yang dinanti pun telah tiba. I Laurang beserta
keluarganya pergi ke istana. Seluruh keluarga istana terkejut melihat
ketampanan I Laurang terutama si putri bungsu dan keenam kakaknya” (I Laurang).
“Sebelum berangkat I Laurang
berpesan kepada istrinya untuk berhati-hati kepada kakak-kakak dinda. I Laurang
memberi pinang dan telur ini untuk ke mana pun dinda pergi, ujar I Laurang
kepada istrinya. " Baik kanda dinda akan selalu ingat kata kanda,"
jawab sang putri bungsu (I Laurang).
Sastra
anak dan Materi Ajar
Sastra anak berjudul Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap
Perampok Kerbau, dan I Laurang dapat dijadikan bahan
pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi.
Dongeng adalah bagian dari budaya
rakyat Indonesia. Pengaruh dongeng sangat besar dalam pembentukan karakter. Dongeng
dapat diberikan sebagai langkah untuk
mensosialisasikan karaker yang baik yang diajarkan di sekolah. Guru perlu
melihat efek pembelajaran sastra anak dalam duia batin anak. Oleh karena itu
perlu memperhatikan proses dalam pembelajaran. Jika anak diajarkan tentang cerita perjuangan, kepahlawanan
terhadap kebatinan maka efek batin dari
pengajaran itu adalah keberanian,
semangat, dan tidak mudah putus asa.
Jika anak diajarkan cerita penderitaan
maka efek batin dari pengajaran itu adalah empati dan seterusnya.
Guru
berperan dalam pemilihan materi pembelajaran sastra dengan mempertimbangkan pesan/isi teks.
Kriteria pemilihan teks mencakup: system tanda berupa bahasa, illustrasi,
gambar; unsur intrinsic meliputi prenokohan, setting, perwatakan, struktur cerita; pesan isi
bermakna, fungsional sesuai dengan tingkat perkembangan, pengalaman, dan
pengetahuan anak.
Supriyad,
dkk. (1992: 351) menetapkan dua kriteria pemilihan bahan pembelajaran cerita
untuk siswa sekolah dasar yaitu keterbacaan dan kesesuaian. Keterbacaan:
kejelasan bahasa, kejelasan tema, kesederhanaan plot, kesederhanaan perwatakan,
kesederhanaan latar, dan kejelasan pusat pengisahan. Kriteria kesesuaian:
kesesuaan dengan kurikulum, alokasi waktu jam pelajaran, perkembangan anak
melaui fase-fase tertentu dan minat anak-anak pada setiap fase berbeda-beda.
Pada umumnya anak-anak suka meniru
tokoh-tokoh yang ada dalam cerita yang mendjadi idolanya. Dengan
demikian diharapkan siswa suka
meneladani nilai-nilai etik yang ada dalam cerita dan mau meninggalkan
nilai moral yang tidak etik. selanjutnya (Huck, 1989: 52-61) ,mengemukakan nilai personal adalah nilai yang berkaitan
dengan kebutuhan pribadi pembaca seperti
kenikmatan, kesenangan, pengembangan imajinasi,
pengalaman yang terhayati, pengembangan perilaku insani, dan pengalaman
lain yang bersifat universal. Nilai edukasional adalah nilai yang berkaitan dengan pendidikan seperti membantu
pengembangan bahasa (kosa kata, gaya bahasa, struktur serta keterampilan membaca
dan menulis, mengembangkan kepekaan
perasaan mengembangkan kemampuan etika, estetika, dan kognisi (daya pikir siswa).
KESIMPULAN
Nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada
sastra anak dari Sulawesi Selatan,
yaitu: bertanggung jawab, mementingkan kepentingan orang lain,
tegas, peduli, berbelas kasih, bekerja sama,
berani, dipercaya, tekun,
adil, pemaaf, murah hati, ramah, ulet, penolong, punya rasa ingin tahu, pemimpin, disiplin, percaya diri, rasa
kemanusiaan, toleransi, dan bijaksana.
Sastra anak berjudul Anak-Anak dengan
Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan I
Laurang dapat dijadikan bahan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas
tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Bengtson,
Ed. 2015. “How Children Succeed: Grit, Curiosity, and The Hidden Power of
Character by Paul Tough.” Journal of School Choice: International
Research and Reform. London: Routledge, p.100-102.
Chrisiana,Wanda.
2005. Upaya Penerapan Pendidikan Karakter Bagi Mahasiswa. Jurnal Teknik Industri vol. 7 No. 1 Juni 2005. Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi
industry , universitas Keristen Petra http://puslit.petra. Ac.id.
/journals/industrials, p.83-90.
Citraningtyas,
Clara Evi, Rudy Pramono, dan Helena Tangkilisan. 2013. Pedagogical Implications of
Folktales: Urgency for a Reconsctructed Tale. Prooceeding world Cenfence on
integration of Knowledge, Langkawi
Malaysia 25-26 November 2013.
Ferdiawan,
Erick dan Wira Eka Putra.2013. “Esq Education
for Children Character Building Based on
Phylosophy of Javaness in Indonesia.” Procedia Social and Behavior Sciences, Turkey: Elsevier, Ltd, p.
1096-1102.
Fitri,
A.Z. 2012. Reiventing Human Character: Pendidikan
Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah. Yogyakarta: ar-ruzz media.
Gall,
Meredith D.Joyce P.Gall dan R.Borg. 2002. Educational
Research and Introduction. United states
of America: Pearson Education.
Helterbran,
Valeri R. dan Brianna R. Strahler. 2014.
“Children as Global Citizens: A Socratic Approach to Teaching Character.” Journal
Childhood Education, p. 310-314.
Hill, T.A. 2005.
Character first! Kimray Inc., http://www. Charactercities.org/ downloads publications/ what
is character.pdf.
http://fiksiana.kompasiana.com/earl_rahman/i-laurang_56b72a588d7a618909d0afc Kesuma, dharma, Cepi Triatne dan johar Permana.
2011. Pendidikan karakter, kajian teori dan paraktik di sekolah. Bandung:
Remaja rosdakarya.
Huck, C.S. , Susan
Hepler dan Janet hickman. 1987. Children’s
Literature in the Elementry School. New York: Holt, Rinehart
and Winston.
Klarer, Mario. 2004. An Introduction to Literary Studies. New
York: Routledge Taylor and Prancis Group.
Lintner, Timothy. 2014. “Using ‘Exceptional’ Children’s Literature to
Promote Character Education in Elementary Social Studies Classrooms.” Journal The Social Studies, London:
Routledge, p.200-203.
Nicolas,
Valerie Hemar dan Mathilde Gollety.
2012. “Using Brand Character When Targeting Children: What For? An Exploration
of Managers and Children’s Viewpoints.” Journal
Young Consumers. Vol.13, Iss 1. Emerald Group, p. 20-29.
Nurgiyantoro, Burhan. 2004. “Kontribusi
Sastra anak dalam Pembentukan Kepribadian
Anak.” Jurnal Cakrawala Pendidikan.
Juni 2004. Tahun ke XXIII no. 2. P. 204-231.
Peraturan Bersama
Menteri Dalam Negeri Dan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomor : 42
Tahun 2009 Nomor : 40 Tahun 2009
Tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan.
Perpres No. 14 Tahun 2015 tentang
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Peraturan
Daerah nomor 19 Tahun 2001 tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga
Adat
Puryanto, Edi.
2008.” Konsumsi Anak dalam Teks Sstra di Sekolah.” Makalah dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX Hiski.
Saxby, M. 1991.
”The Gift Wing’s: the Value of Literature to Children, dalam Maurice Saxby dan
Gordon Winch (ed.) Give them Wings, the
Experience of Children’s Literature. Melbourne: the Macmilan Company,
p.3-18.
Shoshani, Anat
dan Ilanit Aviv. 2014. ”The Pilars of Strenght
for First-Grade Adjustment Parental and Children’s Character Sthrenghths
and the Transition to Elementary School.”
The Journal of Positive Psychology: Dedicated to
Furthering Research and Promoting Good Practice.
London: Routledge, p.315-326.
Supriyadi, dkk. 1992. Pendidikan Bahasa Indonesia 2:
Modul UT Jakarta: Depdikbud.
Torres,
Agustin Reyes, dan Amanda Rose Bird. 2015. “Reshaping Curriculum to Enhance the
Relevance of Literary Competence in Children’s Education. Journal Childhood
Education. Cambridge: University of Cambridge,p.9-15.
Wei, Neng Lin, Robert Enright, dan John Klatt.
2014. “Forgiveness as Character Education For Children and Adolescents.” Journal of Moral Education. London:
Routledge Taylor and Prancis Group, p.237-235.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar