Sabtu, 14 Januari 2017






PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SASTRA ANAK SULAWESI SELATAN
SEBAGAI PENGAYAAN  MATERI AJAR SASTRA SD KELAS TINGGI

Dr. Juanda, M.Hum.
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan  Sastra
Universitas Negeri Makassar
HP 085255007915
  
        ABSTRAK
           
            Sastra anak yang berasal dari Sulawesi Selatan,  antara lain: Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan  I Laurang. Sastra anak ini sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang perlu digali dan dipertahankan dalam  pembentukan karakter bangsa Indonesia. Pembentukan karakter pada anak sejak dini dapat  menjadikan pondasi pembangunan sumber daya manusia sebagai penguatan budaya lokal dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi  Asean (MEA). Sastra anak yang memiliki nilai pembentukan karakter dapat dijadikan  bahan pengayaan materi ajar  sastra di SD kelas tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi nilai-nilai karakter yang terdapat dalam sastra anak  yang berasal dari Sulawesi Selatan dan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi.  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif  kualitatif. Sumber datanya adalah sastra anak yang berasal dari Sulawesi Selatan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik membaca kritis,  yaitu: membaca sastra anak Sulawesi Selatan, mencatat data-data yang berkaitan dengan nilai karakter lalu  mengklasifikasikan datanya. Teknik analisis data dengan teknik analisis isi dengan langkah-langkah: mereduksi data, menyajikan dengan menyusun secara teratur dan terperinci, menganalisis data yang tersaji sehingga memperoleh deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter lalu melakukan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada sastra anak dari Sulawesi Selatan,  yaitu:   bertanggung  jawab, mementingkan kepentingan orang lain, tegas, peduli, berbelas kasih, bekerja sama, berani, dipercaya, tekun, adil, pemaaf, murah hati, ramah, ulet, penolong,  punya rasa ingin tahu, pemimpin, disiplin, percaya diri, rasa kemanusiaan, toleransi, dan bijaksana. Sastra anak berjudul Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan  I Laurang dapat dijadikan bahan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi.


Kata Kunci:  Karakter, Sastra Anak, dan Materi Ajar

PENDAHULUAN

Sastra anak yang berasal dari Sulawesi Selatan,  antara lain: Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan  I Laurang. Sastra anak ini sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang perlu digali dan dipertahankan dalam  pembentukan karakter bangsa Indonesia. Pembentukan karakter pada anak sejak dini dapat  menjadikan pondasi pembangunan sumber daya manusia sebagai penguatan budaya lokal dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi  Asean (MEA). Sastra anak yang memiliki nilai pembentukan karakter dapat dijadikan  bahan pengayaan materi ajar  sastra di SD kelas tinggi.
            Pembelajaran sastra pada jenjang SD kelas tinggi perlu memperkenalkan sebanyak mungkin variasi dan jenis karya sastra, misalnya genre sastra yang terdiri atas prosa, puisi, drama, dan film. Karya sastra tersebut wajib dibaca dan dipelajari oleh murid. Mereka dapat membaca dan menikmatinya. Murid yang semula kurang suka membaca dan siswa kita harapkan berubah menjadi suka sehingga kebiasaan ini ditampung dengan kebiasaan yang menjadikan kompeten membaca. Para ahli psikologi menyatakan bahwa anak usia SD sudah memiliki kemampuan kognitif yang menjadikannya dapat bernalar (yang semula selalu bernalar dengan induktif), bisa mengingat, mampu menggunakan kalimat yang semakin kompleks dan semakin sosial. Bilamana kompetensi dasar sastra, membaca  sebagai kesenangan, sesuatu yang menjadi tujuan pengajaran sastra. Hal yang pengajar harapkan adalah murid menjadi suka membaca sehingga dapat mandiri melahap berbagai jenis bacaan lainnya yang memberikannya pelajaran sehingga menjadi alat bagi mereka untuk hidup mandiri
            Kajian budaya lokal dan pelestariannya  khususnya sastra sebenarnya telah tertuang dalam  Peraturan Bersama  Menteri dalam Negeri Dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : 42 Tahun 2009  Nomor : 40 Tahun 2009 tentang  Pedoman Pelestarian Kebudayaan. Bab I ketentuan umum  pasal 1 ayat (1) Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan, perilaku, dan hasil karya manusia dan/atau kelompok manusia baik bersifat fisik maupun non fisik yang diperoleh melalui proses belajar dan adaptasi terhadap lingkungannya. (2) Pelestarian adalah upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan yang dinamis. (3) Perlindungan adalah upaya pencegahan dan penanggulangan yang dapat menimbulkan kerusakan, kerugian, atau kepunahan kebudayaan berupa gagasan, perilaku, dan karya budaya termasuk harkat dan martabat serta hak budaya yang diakibatkan oleh perbuatan manusia ataupun proses alam. (4) Pengembangan adalah upaya dalam berkarya, yang memungkinkan terjadinya penyempurnaan gagasan, perilaku, dan karya budaya berupa perubahan, penambahan, atau penggantian sesuai tata dan norma yang berlaku pada komunitas pemiliknya tanpa mengorbankan keasliannya.  (5) Pemanfaatan adalah upaya penggunaan karya budaya untuk kepentingan pendidikan, agama, sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan itu sendiri. (1) Perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) meliputi aspek-aspek: a. kesenian; b. kepurbakalaan; c. kesejarahan; d. permuseuman; e. kebahasaan; f. kesusastraan; g. tradisi; h. kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; i. kepustakaan; j. kenaskahan; dan k. perfilman. Pasal 12 Pemanfaatan kebudayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dapat dilakukan melalui: a. penyebarluasan informasi; b. pergelaran budaya; c. pengemasan bahan ajar; d. pengemasan bahan kajian; dan e. pengembangan wisata.
Perpres No. 14 Tahun 2015 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dan dipimpin oleh Menteri. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan masyarakat, serta pengelolaan kebudayaan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.  Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan fungsi: Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di daerah; h. Pelaksanaan pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa dan sastra;

Pada Bab III Pasal 4 ayat (5) dalam Peraturan Daerah nomor 19 Tahun 2001 tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat; disebutkan bahwa tujuan pembinaan adalah untuk meningkatkan sikap positif terhadap adat istiadat dan lembaga adat dapat  mencapai taraf hidup yang lebih baik.
Kemudian untuk mempertahankan adat istiadat, mereka menyelenggarkaan berbagai upacara adat dalam siklus kehidupan manusia, seperti pada saat kehamilan, kelahiran, turun tanah, dikhitan, menikah dan meninggal dunia. Selain upacara adat, masyarakat hukum adat juga masih memelihara seni budaya lokal yang merupakan warisan leluhur mereka. Seni budaya dalam bentuk tarian, musik dan tarian tradisional biasanya ditampilkan bertepatan dengan hari-hari tertentu untuk melengkapi upacara adat. Di kalangan suku Bugis ada seni sastra yang tertulis dalam lontara yang menggunakan aksara Bugis/Makasar.
Masalah penelitian ini adalah nilai-niali karakter apakah yang terdapat dalam sastra anak Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan  I Laurang dan apakah layak dijadikan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi nilai-nilai karakter yang terdapat dalam sastra anak  yang berasal dari Sulawesi Selatan dan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi.

TEORI
            Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sastra telah mengalami perkembangan pesat antara lain dalam genre sastra sendiri. Dahulu sastra mengenal hanya tiga genre yaitu; prosa, puisi,  dan drama ( Klarer, 2004).  Sekarang genre sastra  menjadi empat yaitu:  prosa, puisi, drama, dan film (Klarer, 2004)  Pada bagian prosa dikenal sastra anak yang di dalamnya antara lain dongeng. Dongeng merupakan rangkaian peristiwa yang nyata atau tidak nyata yang disampaikan secara sederhana dan mengandung pesan moral yang baik. Kisah nyata itu  bisa berupa sejarah, biografi atau testimoni, serta kisah rekaan seperti fabel,  mitos, legenda, atau hikayat. Mendongeng atau bercerita tentang sesuatu  bisa dilakukan dengan banyak cara agar dongeng lebih menarik dan hidup misalnya dengan animasi suara melalui aplikasi teknologi informatika atau melalui alat peraga tradisional. Mendongeng bisa dilakukan oleh anka-anak, orang tua, guru, atau siapapun yang memilki bakat, seni, hobi, kemauan dan kemampuan  serta kepentingan untuk itu.
            Dalam sastra anak proses dialog interaktif  antara cerita anak dengan pembacanya biasanya hilang. Apabila kita cermati  proses kreatif dan proses produksi  sastra anak sangat  dikontrol oleh orang dewasa  meskipun sastra anak ditulis  untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Sastra anak adalah karya sastra  yang sengaja ditulis untuk mendidik anak. Apabila Horace  dalam, Arts Poetica menulis dulce et utile ‘menghibur dan mendidik’ yang oleh Citraningtyas, Rudy Pramono, dan Helena Tangkilisan (2013) dikatakan mendidik dan menghibur.
            Ditinjau dari sasaran pembacanya satra anak dapat dibedakan antara sastra anak untuk sasaran pembaca kelas awal, menengah, dan kelas tinggi. Sastra anak secara umum meliputi; 1) buku bergambar, 2) cerita rakyat, 3) fiksi sejarah, 4)fiksi realistik, 5)fiksi ilmiah, 6)cerita fantasi, 7)biografi. Selain berupa cerita, sastra anak juga berupa puisi  yang lebih banyak menggambarkan keindahan, paduan bunyi kebahasaan, pilihan kata dan ungkapan perasaan, gagasan, penggambaran objek maupun peristiwa yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak (Saryono dalam Puryanto, 2008: 3).
            Saxby (1991:5-10) mengemukakan bahwa kontribusi satsra anak  membentang dari dukungan terhadap berbagai pertumbuhan pengalaman (rasa, emosi, bahasa, ) personal (kognitif, etis, sosial, spiritual), eksplorasi dan penemuan. Namun, termasuk juga petualangan dalam kenikmatan. Sementara itu (Huck, dkk., 1987: 6-14) mengemukakan bahwa nilai sastra  anak secara garis besar  dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu nilai personal (personal values) dan nilai pendidikan (educational values). Secara rinci Nurgiyantoro (2004: 214-227) mengemukakan kontribusi sastra anak terhadap perkembangan anak, yaitu terhadap perkembangan emosional, perkembangan intelektual, perkembangan imajinasi, pertumbuhan rasa sosial, pertumbuhan rasa etis dan religius, dan pada nilai pendidikan sebagai eksplorasi dan  multikultural dan penanaman kebiasaan membaca.
Karakter
            Karakter yang menjadi acuan  seperti yang terdapat dalam The Six Pillars Of Character yang dikeluarkan oleh  character Counts of Coalition a Project  of the Joseph Institute of Ethics, yaitu: 1) trustworthiness,  bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi berintegrasi, jujur, dan loyal; 2) fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka memanfaatkan orang lain; 3) caring bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar; 4) respect yaitu bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain; 5) citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum  dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam; 6) responsibility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin serta melakukan  sesuatu yang sebaik mungkin (Chrisiana, 2005:84). Kekuatan karakter adalah proses atau mekanisme psikologis yang didefinisikan sebagai aspek yang merujuk kepada kepribadian dan nilai moral (Shoshani dan Ilanit Aviv, 2014:  317).
            Pendidikan karakter dalam setting sekolah sebagai pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Definisi ini mengandung makna; 1) pendidikan karakter merupakan pendidikan yang terintegrasi pada mata pelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran; 2) diarahkan pada penguatan dan pengembangan perilaku  anak secara utuh; 3) penguatan dan pengembangan perilaku didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah (lembaga). Tujuan pendidikan karakter merujuk pada sasaran untuk meluruskan berbagai perilaku anak yang negatif menjadi positif. Proses pendidikan karakter di sekolah harus dihubungkan dengan proses pendidikan di kalangan keluarga (Kesuma, Cepi Triatne dan Johar Permana, 2011: 11).  Pengembangan dan pengajaran karakter yang baik pada anak-anak sangat ditentukan oleh peran orang tua, guru, dan lingkungan sosial  (Helterbran dan Brianna R. Strahler, 2014: 311).
Karakter dapat diberikan beberapa pengertian, antara lain “Character determines someone’s private thougts and someone action’s done.  Good character is the inward  motivation to do whot is right, according to the highest standard of behavior, in every situation” (Hill, 2005). Banyak Pengertian karakter dalam dunia pendidikan, yaitu:  kejujuran, kebaikan hati, dermawan, toleransi, kebebasan, persamaan, dan respek terhadap perbedaan ( Lintner, 2014: 200).  Jenis karakter didefinisikan sebagai gambaran tanda yang berfungsi mewakili metonimik logis. Keller (1993) dalam  (Nicolas dan Mathilde Gollety, 2012:21) mengemukakan bahwa jenis pengetahuan dibagi dalam dua dimensi, yaitu kesadaran dan image.
Pendidikan karakter menjadikan  kebiasaan cara berpikir  dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama  sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara  dan membantu mereka untuk membuat  keputusan  yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan karakter sangat penting dalam memahami bagaimana memaafkan (Wei, Robert Enright, dan John Klatt, 2014: 238). Penguatan karakter perlu ditanamkan melalui pendidikan dan budaya lokal (Ferdiawan dan Wira Eka Putra, 2013: 1097).
            Strategi pendidikan karakter di sekolah meliputi empat tahapan, yaitu: sosialisasi, internalisasi, pembiasaan, dan pembudayaan. Di dalam setiap tahapan karakter terus-menerus digali hingga menjadi kebiasaan hidup keseharian siswa.  Pada tahap sosialisasi  anak dibangunkan kesadarannya mengenai karakter sebagai fokus pembelajaran setiap bulan. Anak diperkenalkan dengan tokoh-tokoh yang terkenal  yang mempunyai karakter yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi anak-anak. Sosialisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara melalui mendongeng, bermain drama, berdiskusi,  menonton video tokoh dan lain sebagainya. Setelah itu, anak menginternalisasi karakter tersebut dalam dirinya. Pada tahap pembiasaan anak dihadapkan pada masalah-masalah di sekolah baik dalam kelas maupun lingkungan sekolah untuk dapat membiasakan diri melakukan karakter yang sedang dipelajarinya (Fitri, 2012).
Pengajaran Sastra
            Pengajaran sastra diyakini dapat  membantu proses pembentukan karakter siswa karena di dalam karya sastra  terkandung nilai-nilai positif, nilai budaya, sosial, moral, kemanusiaan hingga agama. Karena potensi nilai itu kaum romantik  meyakini bahwa karya sastra  mengandung  kebenaran  yang setara dengan kitab suci. Setidaknya filosof  Aristoteles menyejajarakan sastra  khususnya puisi dengan filsafat, konsep tentang kebijaksanaan hidup. Bahkan dia menganggap  sastra lebih filosofis dibanding  sejarah yang hanya mencatat kejadian atau peristiwa penting yang kasat mata dan berpusat pada kekuasaan sedangkan sastra dapat mengungkap hal-hal yang tersembunyi di balik peristiwa, termasuk tersembunyi di dalam batin manusia, para pelaku sejarah, sekaligus meramal apa yang bakal terjadi pada masa depan.
            Pengajaran sastra di sekolah menjadi tumpuan yang utama dalam pembentukan karakter.  Belajar sastra adalah salah satu keterampilan imajinatif dan komunikatif bagi siswa sebagai pencipta maupun penikmat sastra. Pengembangan kompetensi kesusastraan terdiri atas dimensi kognitif dan konstitusional, dimensi performansi dan dimensi estetis  dan sosiokultural.  Dimensi ini sangat berperan terhadap pengalaman dan emosi siswa dalam mengelaborasi pemahaman dan makna (Torres dan Amanda Rose Bird, 2015: 11).  Di dalam karya sastra terdapat muatan mendidik maupun doktrin.  Siswa  juga bisa mencerna sesuai dengan perkembangan jiwanya dan dapat peka terhadap karya sastra itu sendiri.   Kenyataan ini menunjukkan bahwa sastra sangat relevan dengan pendidikan karakter.  Karya sastra sarat dengan nilai-nilai pendidikan akhlak seperti yang dikehendaki dalam pendidikan karakter.
            Membaca karya sastra bukan hanya untuk mendapatkan kepuasan  karena keindahannya melainkan juga untuk memperkaya wawasan dan daya nalar. Sastra adalah vitamin batin  karena mengajarkan nilai-nilai  luhur kemanusiaan  kepada pembacanya dan memberikan pencerahan. Mengingat peranan sastra  dalam pengembangan kepribadian pembacanya maka pengajaran sastra di sekolah sangatlah penting. Kesuksesan siswa ditentukan oleh peran orang tua, pendidik, dan penentu kebijakan (Bengtson, 2015: 102).
            Melalui pengajaran sastra  di sekolah, siswa tidak hanya diperkenalkan kekayaan sastra Indonesia dan dunia , tokoh-tokoh dalam kesusastraan bahkan juga diperkenalkan pada kekayaan isi karya sastra itu sendiri. Dengan membaca dan memahami karya sastra  berarti siswa mencoba memahami kehidupn,  mencoba memperoleh nilai-nilai positif dan luhur dari kehidupan dan pada akhirnya memperkaya batinnya.
           
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif  kualitatif. Sumber datanya adalah sastra anak yang berasal dari Sulawesi Selatan.  Ada enam langkah yang dilakukan dalam penelitian ini (Gall dan Borg, 1983: 571), yaitu: Borg dan Gall (1983: 775) mengajukan serangkaian tahap yang harus ditempuh dalam pendekatan ini, yaitu: “Research and information collecting, planning, develop preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing, final product revision, and dissemination and implementation.” Teknik pengumpulan data menggunakan teknik membaca kritis,  yaitu: membaca sastra anak Sulawesi Selatan, mencatat data-data yang berkaitan dengan nilai karakter lalu  mengklasifikasikan datanya. Teknik analisis data dengan teknik analisis isi dengan langkah-langkah: mereduksi data, menyajikan dengan menyusun secara teratur dan terperinci, menganalisis data yang tersaji sehingga memperoleh deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter lalu melakukan penarikan kesimpulan/verifikasi.

HASIL DAN   PEMBAHASAN
Nilai-nilai karakter yang terdapat dalam sastra anak  yang berasal dari Sulawesi Selatan dan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada sastra anak dari Sulawesi Selatan,  yaitu:

Bertanggung Jawab
Dalam dongeng Anak-Anak  dengan Dada Emas memperlihatkan betapa raja memiliki tanggung jawab yang besar terhadap kerajaan yang dipinpinnya dan tanggung jawab terhadap istrinya meskipun istrinya tersebut sebagai selir. Contoh kutipan di bawah ini.
Tidak lama kemudian gadis miskin yang telah dikawini raja itu akhirnya hamil dan dia mengidam daging rusa. Sekalipun gadis miskin yang dinikahi, tetapi sang Raja begitu kasih sayang, sehingga apa yang diminta selalu dituruti. Bahkan untuk mencari daging rusa sang Raja terjun sendiri berburu ke hutan. Melihat sayangnya yang luar biasa kepada istrinya kedua  (Anak-Anak  dengan Dada Emas ).

Mementingkan Kepentingan Orang Lain
Mengutamakan kepentingan orang lain. Dalam hal ini Nenek Inang selalu mengutamakan kepentingan orang lain terutama kepada si Dada Emas, bersaudara dapat dilihat pada  cuplikan dongeng di bawah ini.
“Nenek Inang Pengasuh berkata, “Hai cucuku, kesanalah kamu ikut menyambung ayam?” “Ayam apa yang harus saya bawa, sementara tidak punya ayam,” tanya sang cucu. Nenek berkata lagi, ” Nanti kau saya buatkan ayam agar ikut menyabung ayam”. (Anak-Anak si Dada Emas).
Tegas
Raja sangat tegas dalam mengambil keputusan. Sesaat setelah raja mengetahui bahwa permaisurinya yang telah membuat kesalahan, membohongi raja dan membuang anak kandung raja. Raja menghukum perrmaisurinya. Contoh kutipan di bawah ini.
“Ternyata yang bohong adalah permaisuriku, untuk itu dia segera memerintah kepada pengawalnya untuk menangkapnya lalu diikat dan ditaruh dibawah jamban, sebagai ganti selirku. Biar dia merasakan akibat perlakuan jahat itu” (Anak-Anak si Dada Emas).

Peduli

Para penduduk desa sangat peduli terhadap kemanan dan ketenteraman dalam kampung mereka. Hal ini terbukti pada saat kampungnya selalu kehilangan hewan peliharaan, mereka berusaha mencari pelakunya. Contoh kutipan di bawah ini.
Ambo Upe’ pun menjelaskan bahwa ia telah memperoleh keterangan dari isyarat yang disampaikan oleh burung Elang miliknya, di mana tempat persembunyian para perampok itu. Mengetahui hal itu, puluhan penduduk desa yang mengikuti Bapak Ambo Upe’ menjadi gembira, dan menunggu komando dari kepala desa, yaitu Bapak Ambo Upe’. Senjata-senjata berupa badik, parang dan tombak pun mulai dipersiapkan. Obor pun mulai dinyalakan, karena hari telah mulai gelap (Ambo Upe).
Belas Kasih
Belas kasih dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini.
“Di depan rombongan penduduk, berjalanlah Ambo Upe’ beserta burung Elangnya. Sambil mengelus bulu burung Elang-nya dengan lembut dan penuh kasih sayang, Ambo Upe’ pun berkata, “Duhai burung Elang, jasamu sangat besar bagi penduduk desa. Dan kamu juga sudah menyelamatkan diriku dari bahaya yang mengancam. Terimakasih banyak kuucapkan, sungguh tak akan pernah kulupakan semua kebaikanmu, sekali lagi terimakasih”  (Ambo Upe)
Bekerja Sama
Karakter kerja sama dapat dilihat dalam dongeng yang menceritakan kerja sama penduduk desa
yang selalu kehilangan ternaknya mencari para pencurinya. Contoh kutipan di bawah ini.
“Akhirnya Ambo Asse’ mencoba memahaminya dan bersama-sama penduduk desa, `        mereka mengikuti kemana burung Elang itu akan terbang. Rupanya burung  itu terbang ke arah di mana Ambo Upe’ di ikat oleh perampok tadi” (Ambo Upe).
Penolong, dipercaya
Ambo Upe dikenal sebagai anak yang rajin dan suka menolong siapa saja, serta penyayang binatang, itulah sebabnya ia dipercaya untuk menggembalakan kerbau-kerbau itu oleh bapaknya.( Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau)

Pemimpin
Ambo Asse, seorang kepala desa memperlihatkan kepemimpinannya dalam menumpas gerombolan perampok hewan ternak. Contoh kutipan di bawah ini.
“Dengan di pimpin oleh Ambo Asse’ maka berangkatlah para penduduk dengan memanfaatkan nyala obor serta mengikuti arah kemana burung Elang dan Ambo Upe’ pergi. Setelah berjalan jauh ke dalam hutan, akhirnya mereka menemukan tempat persembunyian para perampok itu. Para penduduk lalu mengepung tempat itu, dan tak lama kemudian ke empat perampok itu pun karena kalah jumlah dan kalah senjata, akhirnya menyerah tanpa melakukan perlawanan berarti” ( Ambo Upe ).

Pemberani, toleransi, arif, bijaksana

Karakter jenis ini dapat dilihat dalam dongeng I Laurang. Contoh kutipan di bawah ini.

“Akhirnya, kedua orangtuanya mengabulkan kenginan anaknya. Mereka memberanikan diri menghadap sang raja yang terkenal arif dan bijaksana. " Ampun baginda raja, jika kami yang miskin ini sudah lancang masuk istana yang megah ini. Maksud kedatangan kami adalah ingin menyampaikan pinangan anak kami kepada salah satu sorang putri baginda," jelas ayah I Laurang sambil memberi hormat “ (I  LAurang).
Pemaaf
Sifat karakter seperti ini dapat dilihat dalam dongeng I Laurang. Contoh kutipan di bawah ini.
“Mendengar kelakuan keenam putrinya itu, sang raja memilih Putri Bungsu untuk menjadi raja dan menjadikan keenam kakaknya pelayan raja. Akhirnya, keenam kakaknya pun menyadari kesalahan mereka. Mereka meminta maaf kepada Putri Bungsu. Putri Bungsu menerima maaf mereka. Mereka pun hidup bahagia di istana” (I Laurang).
Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu dapat dilihat dalam dongeng Ambo Upe. Burung Elang selalu mengikuti ke
mana kerbau tuannya digiring oleh kawanan perampok. Contoh kutipan di bawah ini.
“Sang burung Elang hanya bisa mengawasi semua yang terjadi dari atas pohon. Secara diam-diam burung itu terbang mengikuti ke arah mana para perampok membawa kerbau-kerbau milik Ambo Upe’. Ternyata hewan ternak itu dimasukkan ke dalam sebuah gua yang terdapat di tengah hutan. Setelah itu burung Elang terbang kembali ke arah rumah Ambo Upe” (Ambo Upe).
Adil
Karakter adil diperlihatkan oleh sikap raja yang memperlakukan anaknya secara adil. Contoh
kutipan di bawah ini.
“Raja kemudian  bertanya kepada putrinya satu per satu dari sulung hingga paling bungsu. Tetapi tidak ada yang tertarik pada I Laurang, dari putri 1 hingga putri ke 6. Tapi Putri paling bungsu bersedia untuk menikah dengan I Laurang dan raja merestuinya” (I Laurang).
Ramah dan disiplin
Ramah dan disiplin dapat di lihat dalam kutipan dongeng I Laurang, contoh kutipan  di bawah
ini.
“I Laurang adalah pemuda yang sangat tampan dan gagah, rambutnya sangat panjang karena tidak potong dan kulitnya pun sangat putih bersih. Hari yang dinanti pun telah tiba. I Laurang beserta keluarganya pergi ke istana. Seluruh keluarga istana terkejut melihat ketampanan I Laurang terutama si putri bungsu dan keenam kakaknya” (I Laurang).
“Sebelum berangkat I Laurang berpesan kepada istrinya untuk berhati-hati kepada kakak-kakak dinda. I Laurang memberi pinang dan telur ini untuk ke mana pun dinda pergi, ujar I Laurang kepada istrinya. " Baik kanda dinda akan selalu ingat kata kanda," jawab sang putri bungsu (I Laurang).




Sastra anak dan Materi Ajar
Sastra anak berjudul Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan  I Laurang dapat dijadikan bahan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi.
            Dongeng adalah bagian dari budaya rakyat Indonesia. Pengaruh dongeng sangat besar dalam pembentukan karakter. Dongeng dapat diberikan  sebagai langkah untuk mensosialisasikan karaker yang baik yang diajarkan di sekolah. Guru perlu melihat efek pembelajaran sastra anak dalam duia batin anak. Oleh karena itu perlu memperhatikan proses dalam pembelajaran. Jika anak diajarkan  tentang cerita perjuangan, kepahlawanan terhadap kebatinan  maka efek batin dari pengajaran itu adalah  keberanian, semangat, dan tidak mudah putus asa.  Jika anak diajarkan cerita penderitaan  maka efek batin dari pengajaran itu adalah  empati dan seterusnya.
            Guru berperan dalam pemilihan materi pembelajaran sastra  dengan mempertimbangkan pesan/isi teks. Kriteria pemilihan teks mencakup: system tanda berupa bahasa, illustrasi, gambar; unsur intrinsic meliputi prenokohan, setting,  perwatakan, struktur cerita; pesan isi bermakna, fungsional sesuai dengan tingkat perkembangan, pengalaman, dan pengetahuan anak.
            Supriyad, dkk. (1992: 351) menetapkan dua kriteria pemilihan bahan pembelajaran cerita untuk siswa sekolah dasar yaitu keterbacaan dan kesesuaian. Keterbacaan: kejelasan bahasa, kejelasan tema, kesederhanaan plot, kesederhanaan perwatakan, kesederhanaan latar, dan kejelasan pusat pengisahan. Kriteria kesesuaian: kesesuaan dengan kurikulum, alokasi waktu jam pelajaran, perkembangan anak melaui fase-fase tertentu dan minat anak-anak pada setiap fase berbeda-beda. Pada umumnya anak-anak suka meniru  tokoh-tokoh yang ada dalam cerita yang mendjadi idolanya. Dengan demikian diharapkan siswa suka  meneladani nilai-nilai etik yang ada dalam cerita dan mau meninggalkan nilai moral yang tidak etik. selanjutnya (Huck, 1989: 52-61) ,mengemukakan  nilai personal adalah nilai yang berkaitan dengan  kebutuhan pribadi pembaca seperti kenikmatan, kesenangan, pengembangan imajinasi,  pengalaman yang terhayati, pengembangan perilaku insani, dan pengalaman lain yang bersifat universal. Nilai edukasional adalah nilai  yang berkaitan dengan pendidikan seperti membantu pengembangan bahasa (kosa kata, gaya bahasa, struktur serta keterampilan membaca dan menulis, mengembangkan  kepekaan perasaan mengembangkan kemampuan etika, estetika,  dan kognisi (daya pikir siswa).

KESIMPULAN
Nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada sastra anak dari Sulawesi Selatan,  yaitu:   bertanggung  jawab, mementingkan kepentingan orang lain, tegas, peduli, berbelas kasih, bekerja sama,  berani, dipercaya, tekun,   adil,  pemaaf, murah hati, ramah,  ulet, penolong,  punya rasa ingin tahu,  pemimpin, disiplin, percaya diri, rasa kemanusiaan,  toleransi, dan bijaksana. Sastra anak berjudul Anak-Anak dengan Dada Emas, Ambo Upe dengan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau, dan  I Laurang dapat dijadikan bahan pengayaan materi ajar sastra di SD kelas tinggi.


DAFTAR PUSTAKA

Bengtson, Ed. 2015. “How Children Succeed: Grit, Curiosity, and The Hidden Power of Character by Paul Tough.”  Journal of School Choice: International Research and Reform. London: Routledge, p.100-102.

Chrisiana,Wanda. 2005. Upaya Penerapan Pendidikan Karakter Bagi Mahasiswa. Jurnal Teknik Industri vol. 7 No. 1 Juni 2005.  Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi industry , universitas Keristen Petra http://puslit.petra. Ac.id. /journals/industrials, p.83-90.

Citraningtyas, Clara Evi, Rudy Pramono, dan Helena Tangkilisan. 2013. Pedagogical  Implications of Folktales: Urgency for a Reconsctructed Tale. Prooceeding world Cenfence on integration  of Knowledge, Langkawi Malaysia 25-26 November 2013.

Ferdiawan, Erick dan Wira Eka Putra.2013. “Esq Education  for Children Character Building Based on  Phylosophy of Javaness in Indonesia.” Procedia Social and Behavior Sciences, Turkey: Elsevier, Ltd, p. 1096-1102.

Fitri, A.Z. 2012. Reiventing Human Character: Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah. Yogyakarta: ar-ruzz media.

Gall, Meredith D.Joyce P.Gall dan R.Borg. 2002. Educational Research and Introduction.  United states of America: Pearson Education.

Helterbran, Valeri R.  dan Brianna R. Strahler. 2014. “Children as Global Citizens: A Socratic Approach to Teaching Character.”  Journal Childhood Education, p. 310-314.

Hill, T.A. 2005. Character first! Kimray Inc., http://www. Charactercities.org/ downloads publications/ what is character.pdf.

http://fiksiana.kompasiana.com/earl_rahman/i-laurang_56b72a588d7a618909d0afc Kesuma, dharma, Cepi Triatne dan johar Permana. 2011. Pendidikan karakter, kajian teori dan paraktik di sekolah. Bandung: Remaja rosdakarya.

Huck, C.S. , Susan Hepler dan Janet hickman. 1987.  Children’s  Literature in the Elementry School. New York: Holt, Rinehart and  Winston.

Klarer, Mario. 2004. An Introduction to Literary Studies. New York: Routledge Taylor and Prancis Group.

Lintner, Timothy. 2014.  “Using ‘Exceptional’ Children’s Literature to Promote Character Education in Elementary Social Studies Classrooms.” Journal The Social Studies, London: Routledge,  p.200-203.

Nicolas, Valerie Hemar  dan Mathilde Gollety. 2012. “Using Brand Character When Targeting Children: What For? An Exploration of Managers and Children’s Viewpoints.” Journal Young Consumers. Vol.13, Iss 1. Emerald Group, p. 20-29.

Nurgiyantoro, Burhan. 2004. “Kontribusi Sastra anak dalam  Pembentukan Kepribadian Anak.” Jurnal Cakrawala Pendidikan. Juni 2004. Tahun ke XXIII no. 2. P. 204-231.

Peraturan Bersama  Menteri Dalam Negeri Dan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomor : 42 Tahun 2009  Nomor : 40 Tahun 2009 Tentang  Pedoman Pelestarian Kebudayaan.

Perpres No. 14 Tahun 2015 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Peraturan Daerah nomor 19 Tahun 2001 tentang Pemberdayaan,  Pelestarian  dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat

Puryanto, Edi. 2008.” Konsumsi Anak dalam Teks Sstra di Sekolah.” Makalah dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX  Hiski.

Saxby, M. 1991. ”The Gift Wing’s: the Value of Literature to Children, dalam Maurice Saxby dan Gordon Winch (ed.) Give them Wings, the Experience of Children’s Literature. Melbourne: the Macmilan Company, p.3-18.

Shoshani, Anat dan Ilanit Aviv. 2014. ”The Pilars of Strenght  for First-Grade Adjustment Parental and Children’s Character Sthrenghths and the Transition to Elementary School.”  The Journal of  Positive Psychology: Dedicated to Furthering  Research and Promoting Good Practice. London: Routledge, p.315-326.
Supriyadi, dkk. 1992. Pendidikan Bahasa Indonesia 2: Modul UT Jakarta: Depdikbud.
Torres, Agustin Reyes, dan Amanda Rose Bird. 2015. “Reshaping Curriculum to Enhance the Relevance of Literary Competence in Children’s Education. Journal Childhood Education. Cambridge: University of Cambridge,p.9-15.
Wei,  Neng Lin, Robert Enright, dan John Klatt. 2014. “Forgiveness as Character Education For Children and Adolescents.” Journal of Moral Education. London: Routledge Taylor and Prancis Group, p.237-235.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar